Akhirnya, berdamai.

Filosofi hidup berkisah tentang bertahan dan pergi
Ketika dihadapkan pada suatu pilihan, memilih dan yakin pada apa yang kita putuskan adalah bijaksana
Semua skenario yang telah tergaris, mau tidak mau harus terjadi
Kadang kita berpikir untuk bertahan tapi kadang pula kita merasa itu pilihan yang salah
Setiap insan punya hak untuk melanjutkan episode kehidupan nya
Saat manusia menemukan dan menyadari tugas nya di dunia, maka untuk apa memikirkan cercaan yang terlontar
Berjalan masing-masing bukan berarti berpisah selamanya
Kita tak pernah tau bahwa akan ada persimpangan yang mempertemukan suatu saat nanti
Jika memang takdir Tuhan untuk menjadikan kita berjalan sendirian
Lalu, siapa yang salah??
Jika memang kehendak Nya agar kita berjalan beriringan
Lalu, kenapa kita saling menyalahkan?
Percayalah
Bahwa menjadi dewasa adalah tentang mengingat hal-hal baik dan melupakan hal-hal buruk yg menimpa kita bukan?

Akan lebih indah, ketika kita dipertemukan dalam keadaan lapang dan cita-cita dalam genggaman.

Iklan

Maret, satu tahun yang lalu

Setahun yang lalu di bulan maret.
Aku pernah dijauhkan dari orang-orang yang aku sayang disekitarku.
Karena sebuah kesalahan ku itu pun juga.
Pada saat itu aku lemah, sangat lemah.
Tak terbayangkan betapa nelangsa nya aku saat itu.
Tiga bulan menjelang hari wisuda.
Menghadapi kehilangan dan memulai kehidupan baru. Dunia baru.
Aku tak mengenal mereka dengan baik. Yang aku tahu, mereka lah teman baruku untuk kedepannya.
Kutinggalkan semua jejak di dunia lama ku, dengan tak berdaya.
Namun, mau tak mau.. Harus tetap kuhadapi. Karena ini sebuah resiko yang harus kuambil. Aku memang bodoh pada dasarnya.
Sekuat tenaga aku lepaskan semua kecintaan ku terhadap dunia lama ku. Kenangan yang ku bangun pun hancur seketika.
Aku harus kuat.

Hingga saat ini, aku pun masih merasa ada yang hilang dari jiwaku. Entahlah, yang sebenarnya kupikirkan ini layak atau tidak. Penyesalan pasti ada. Tapi, tanpa sebuah penyesalan.. Aku tak akan belajar menjadi orang yang kuat, sabar dan ikhlas menghadapi ujian yang ku buat karena ulahku. Terimakasih atas segala ujian yang Engkau berikan. Aku mengerti, Engkaulah sebaik-baiknya tempat bergantung.

Apakah aku ada dalam nyatamu?

Aku tak tahu kau anggap diriku apa sekarang.
Sang kekasih pun tidak ada ucapan kata sayang.
Sahabat pun tak pernah berbagi kisah.
Teman? Teman macam apakah aku ini?
Apakah aku ini hanya seorang teman yang lewat bagai semilir angin?
Atau bahkan bukan seorang teman. Tapi hanya manusia yang tengah hidup di bumi.

Aku tak tahu, padahal dulu aku bagian dari ranting pohon mu. Tapi sekarang, nyatanya aku hanya sebuah ranting yang keropos. Yang telah jatuh di atas tanah. Aku bukan pelengkap kehidupan mu lagi.

Dulu, ada sebuah kisah sang zamrud khatulistiwa. Kurasa itu hanyalah dongeng yang berakhir tragis. Zamrud itu tak akan pernah lagi menyala. Atau mungkin dalam kisah itu ada kesalahan redaksi penulisan, entah itu tokoh ataupun latar belakang.

Mengapa sungguh dalam rasa ini yang padahal bukan lagi milikku. Karena memang dari awal kau bukan milikku, aku hanya berharap berlebihan. Maaf. Aku tahu diriku memang seharusnya tak pernah hadir dalam kehidupanmu. Lihat saja saat ini, tak ada satu kisah yang kau kenang. Semuanya hilang begitu saja. Mungkin sudah terbakar habis hanya meninggalkan abu.

Aku bingung, aku masih berusaha baik padamu. Tapi, ketika ku melakukan suatu kelalaian, itulah yang kau lihat. Aku tak butuh di apresiasi atau apalah.. Aku hanya ingin kau menganggap aku ada. Itu saja.

kairo, 220318

Yang Terluka (1)

Ketika ku berbuat setitik kesalahan,
Kau caci diriku sepuas mu.
Aku pun tak membalas.
Hanya berusaha tenang.
Bahwasanya kau sedang tersandung setan.

Apa aku boleh jujur?
Aku tak membencimu.
Aku hanya kecewa padamu.
Bisakah kau merasakan bagaimana nelangsanya jiwaku kini?
Aku,
Yang sudah amat jauh darimu.
Tapi masih berharap padamu.
Aku,
Yang sudah tak nampak bagimu.
Tapi masih memikirkanmu.
Aku,
Yang sudah tak harapkan bagimu.
Masih mendoakan dirimu.

Jujur, berada di posisi ini amat lelah.
Tapi, tuk menghindar pun aku tak kuasa.

Bagaimana bisa seorang perempuan menjadi berdarah dingin padahal ia dulu amat ceria?
Keadaan telah mengubah segalanya.
Ia berfikir dunia nya telah hilang dan tenggelam. Rasa cinta kini menenggelamkan diri nya dalam keramaian dunia.

Kecewa, jatuh, tenggelam.
Apakah ini bentuk pem-bunuh diri-an sebuah cinta?

Yang terluka,

140318

Kembalilah duhai senja

Pada suatu hari di penghujung senja. Seorang gadis berdiam diri di tepian kota, ditemani hembusan angin tanpa sapaan, entah apa yang sedang ia lihat. Hanya tatapan nanar sebuah pengharapan. Ya, iya tak bersahabat dengan senja. Namun, itulah rutinitas yang ia lakukan setiap harinya.
Pada hakikatnya, ada sebuah rasa benci dan cinta yang tengah dialami sang gadis itu. Ya, perasaan ingin meninggalkan karena benci dan perasaan ingin menetap karena cinta.
Sang gadis ini berusaha meninggalkan senja. Namun, apalah daya dan kuasa, ia tak mampu karena rasa cinta yang mendalam masih melekat. Bersabarlah, kelak akan ada yang menjemput mu menjauhi senja atau mungkin mendekati mu dengan senja kembali.

Kairo, 21022018

MENYEPI

Ini bukan perkara seseorang yang tak ingin bergaul dengan yang lain.
Bukan lagi seseorang yang egois terhadap hal disekitarnya..
Tetapi, soal waktu yang ia butuhkan untuk menyelami sebuah arti kesendirian.
Mengerti makna terbaik dari sebuah kesunyian.
.
Jangan kau sangka, di balik diamnya,
Ada jutaan pertanyaan yang ia buat dan harus ia jawab sendiri.
Beradu bersama kesunyian pada malam hari,
Dengan sehelai sajadah nya ia pijaki,
Berharap sesuatu akan kembali.
Karena.. Sebaik-baiknya tempat bersandar ialah Illahi
.
تعجبني القلوب التي تستقبل الألم بصمت و تبرر أخطاء الآخرين بحسن نية .

Hujan Rindu

Hujan memang sangat jarang disini
Bagaikan dirimu yang jarang menyapaku
Dalam satu tahun amat dapat ku hitung jumlah hujan yang turun
Bagai sapaan mu kepadaku

Di dalam hujan ku menemukan setetes demi tetes rasa rindu yang mulai mengalir
Hingga terkumpul menjadi sebuah genangan
Dan genangan itu terserap kedalam bumi

Bagai rindu ku kepadamu
Yang mulai menggenang dan terserap ke relung jiwa
Aku tak pandai menyimpan kerinduan
Ku tumpahkan rindu ini pada hujan
Kuadukan rindu ini pada malam

Aku merindukanmu

Hello

Ini adalah sebuah tempat dimana saya pribadi menumpahkan segala curahan isi hati.

Entah itu bahagia, sedih, dan perasaan lain sebagainya.

Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi kalian semua.

“Menulislah! Maka dunia akan mengenal mu”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑